Pematangsiantar !!! Kompakonline.com – Di balik kinerja keuangan yang dinyatakan sehat, Perumda Tirta Uli Kota Pematangsiantar menghadapi tantangan serius terkait ketersediaan air baku.
Meski jumlah pelanggan terus bertambah setiap tahun, kapasitas produksi air bersih justru dalam keadaan terhenti.
Jika tidak segera diatasi dengan pembangunan sumber air baru, krisis pasokan air diprediksi bisa terjadi dalam kurun waktu satu hingga dua tahun ke depan.
Hal ini terungkap saat disampaikan Direktur Utama PDAM Tirta uli Arianto, ST dalam Rapat Kerja Komisi II DPRD Kota Pematangsiantar dengan Mitra kerja Jajaran Direksi Perumda Tirta Uli yang dipimpin Ketua Komisi II DPRD Kota Pematangsiantar Hendra Pardede, didampingi Darson Rajagukguk, S.Pd dan dihadiri anggota Komisi II DPRD Pematangsiantar serta Jajaran PDAM Tirtauli, Senin ( 24 / 11 / 2025 ) di ruang Komisi II DPRD Kota Pematangsiantar.
dilanjutkan Arianto, ST, Kinerja “Sehat”, Namun Pasokan Air Kritis
Dalam pemaparannya, Direktur Perumda Tirta Uli melaporkan bahwa kondisi perusahaan saat ini tergolong sehat.
Hingga triwulan ketiga tahun 2025, PDAM Tirtauli telah melayani 79.083 Sambungan Rumah (SR) dengan rasio pegawai yang sangat efisien .
Audit keuangan pun menunjukkan hasil Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) .
Namun, Direktur Utama Perumda Tirta Uli Arianto, ST menyoroti masalah krusial di sisi produksi.
Jumlah pelanggan terus naik, tetapi produksi air tidak bertambah.
“Saat ini produksi air kita pas-pasan. Untuk angka pelanggan 79 ribu, kita masih mampu melayani, namun karena topografi Siantar yang naik turun, layanan di jam puncak menjadi terganggu”, ungkap Arianto dalam rapat tersebut .
Dijelaskan Dirut PDAM Tirta Uli Pematangsiantar Arianto, ST, bahwa Dana Rp.10 Miliar Fokus untuk Perpipaan Untuk tahun anggaran 2025, Pemerintah Kota Pematangsiantar telah menyetujui Penyertaan Modal Daerah sebesar Rp10 miliar .
Sayangnya, dana segar ini belum cukup untuk membangun sumber mata air baru.
Dana tersebut rencananya akan dialokasikan sepenuhnya untuk perbaikan infrastruktur jaringan, meliputi : Penertiban Pipa Dinas Sepanjang 12.000 meter untuk 2.000 sambungan rumah di 8 kecamatan .
Peremajaan Pipa Distribusi : Pemasangan pipa baru sepanjang 24.120 meter .
Sedangkan untuk menjamin keamanan pasokan air hingga 5 tahun ke depan, dibutuhkan dana investasi minimal Rp.25 hingga Rp. 40 miliar guna membangun sumber air baru . Upaya meminta bantuan ke pemerintah pusat sempat dilakukan, namun tertunda akibat kebijakan efisiensi anggaran nasional .
Anggota Komisi 2 DPRD Pematangsiantar Alfonso Sinaga menyoroti keluhan masyarakat terkait dampak pengerjaan proyek pipa. Ada warga yang mengeluhkan bekas galian yang mengganggu akses jalan kerumahnya.
“Jangan sampai ada pembiaran. Setelah digali, harus segera direkondisi agar tidak merugikan masyarakat”, tegas Ir.Alfonso sinaga.
Sedangkan Ketua Komisi II DPRD Pematangsiantar Hendra Pardede menghimbau dan meminta petugas PERUMDA Tirtauli untuk mensosialisasikan terlebih dahulu kepada masyarakat menunggu agar padat dulu tanah nya setelah itu baru lah dilapis kembali.
Selain itu, anggota Komisi II DPRD Aprial M. R. Ginting juga meminta perhatian khusus bagi wilayah yang kerap mengalami mati air, seperti di kawasan Tanjung Pinggir dan Tanjung Tongah.
Sedangkan Koordinator Anggota Komisi II DPRD Pematangsiantar Ir. Daud Simanjuntak, MM, mendorong manajemen agar proaktif mengejar dana dari kementerian (PUPR) pada tahun 2026 untuk menutup kekurangan biaya infrastruktur, mengingat APBD kota yang terbatas .
“Peluang pendanaan dari pusat harus dijemput, jangan hanya mengandalkan APBD agar layanan air bersih bisa merata 24 jam”, pungkas Daud Simanjuntak. ( JS ).







