Oleh : Imran Simanjuntak. MA. Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam SAMORA. Aktivis 98.
Pematangsiantar !!! Kompakonline.com – Dari hari hari panjang perjuangan yang pernah kami lalui, hingga jalan hidup yang membawa kami ke dua dunia berbeda. Saya di perguruan tinggi kecil di Pematangsiantar, Budiman di pusat kekuasaan, ini adalah kesaksian saya sebagai seorang kawan yang menolak diam ketika sejarah mulai disederhanakan.
Malam Ketika Kami Masih Percaya Dunia Bisa Diubah. Ada hari hari yang tak pernah hilang dari ingatan saya. Malam ketika kami duduk di ruang sempit, dindingnya kusam, lampunya redup, tetapi semangat kami menyala terang. Kami bukan siapa-siapa. Kami hanya anak-anak muda yang percaya bahwa negeri ini bisa berubah jika ada yang berani berdiri. Di antara wajah-wajah itu, ada Budiman Sudjatmiko.
Bukan sebagai tokoh besar.
Bukan sebagai simbol reformasi.
Tetapi sebagai kawan seperjuangan. Kami berbagi kegelisahan yang sama: tentang rakyat kecil, tentang ketidakadilan, tentang masa depan bangsa.
Puluhan tahun berlalu, Dua Jalan, Satu Arah.
Perjuangan yang Membelah Takdir
Perjuangan kami mengambil arah berbeda.Budiman memilih jalan yang berat,
masuk ke dalam sistem, menghadapi intrik, tekanan, dan stigma. Saya memilih jalan sunyi,
mengabdi di dunia pendidikan, jauh dari pusat kekuasaan, jauh dari sorotan media. Menjadi Ketua di STAI Samora Pematangsiantar, sebuah perguruan tinggi kecil di kota yang sering dianggap pinggiran.
Tidak ada gedung megah.
Tidak ada kamera media.
Tidak ada hiruk pikuk politik nasional.Tetapi di kampus kecil itu, saya membangun generasi.
Saya mengajarkan idealisme, etika, keberanian berpikir.
Saya menanamkan nilai bahwa perubahan tidak hanya lahir dari pusat kekuasaan—tetapi juga dari ruang-ruang kecil yang sering dilupakan.
Gerakan Mahasiswa Kini : Generasi yang Terpecah dan Mudah Ditunggangi.
Dari pinggiran kota ini, saya melihat perubahan besar dalam gerakan mahasiswa. Mereka tidak lagi seperti generasi kami dulu.
Tidak ada lagi satu musuh besar yang menyatukan energi kolektif.Yang ada adalah : Fragmentasi isu Penunggangan elite, Pragmatisme jangka pendek dan Minim basis ideologi. Mahasiswa bergerak tetapi tanpa arah besar.
Berteriak, tetapi tanpa peta perjuangan.
Berjuang, tetapi mudah diperalat.Dan di tengah kekacauan itu, Budiman dijadikan sasaran.
Budiman yang Saya Kenal—Bukan yang Mereka Nilai.
Saya membela Budiman bukan karena ia sempurna.
Saya membelanya karena saya tahu siapa dia sebenarnya.Saya tahu, ia pernah mempertaruhkan kebebasannya demi rakyat. Ia pernah berdiri ketika banyak orang memilih diam. Ia pernah menanggung risiko ketika banyak orang memilih aman. Dan saya tahu satu hal yang mahasiswa hari ini sering lupa, masuk ke dalam sistem bukan berarti menyerah.
Kadang, itu adalah cara lain untuk memperjuangkan hal yang sama dengan risiko yang berbeda. Budiman memilih jalan yang berat.
Jalan yang penuh stigma.
Jalan yang sering disalah pahami.Tetapi ia tetap membawa idealisme itu ke ruang kebijakan.
Dari Pematangsiantar, Saya Menyaksikan Ketidakadilan Itu.
Saya mengajar di kampus kecil, jauh dari Jakarta.
Saya melihat mahasiswa saya, anak-anak dari keluarga sederhana, berjuang untuk sekadar menyelesaikan kuliah. Dari pinggiran kota ini, saya melihat bagaimana oligarki menguasai ruang publik, bagaimana politik menjadi permainan elite, bagaimana mahasiswa kehilangan arah besar perjuangan. Dan ketika saya melihat Budiman diserang oleh dalam kampus tempat ia dibesarkan secara gerakan, mahasiswa yang bahkan tidak memahami sejarah perjuangannya, saya merasa perlu bersuara.
Budiman dan Mahasiswa: Jembatan yang Harus Dijaga.
Budiman masih memiliki sesuatu yang penting untuk generasi mahasiswa hari ini, ada
pengalaman, luka, dan idealisme yang teruji. Ia adalah jembatan antara:generasi yang pernah melawan tirani, dan generasi yang kini berhadapan dengan oligarki, disinformasi, dan fragmentasi.Jika jembatan ini putus, kita kehilangan sesuatu yang sangat berharga:
ingatan kolektif tentang bagaimana perubahan pernah diperjuangkan.
Suara Seorang Kawan dari Pinggiran.
Saya menulis ini bukan untuk membela seorang tokoh.
Saya menulis ini untuk membela seorang kawan. Kawan yang pernah berjalan bersama saya dalam perjuangan.
Kawan yang saya tahu hatinya.
Kawan yang saya tahu idealismenya tidak pernah padam.“Perjuangan rakyat bukan soal siapa yang tetap di jalanan atau siapa yang masuk ke kekuasaan, melainkan soal siapa yang tetap menjaga idealisme di manapun ia berdiri.”Dan saya tahu, Budiman masih menjaganya. (***).







